Oleh: Ngakan Putu Anom Harjana, S.KM., M.A.

1. Dosen dan Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2. Peneliti Yayasan PIKAT

 

“Growing old is mandatory, but growing up is optional!” – Walt Disney

 

Apa Tantangan Transisi Demografi dan Epidemiologi?

Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terpadat nomor empat di dunia dan angka pertumbuhan penduduk terus meningkat setiap tahunnya. Beberapa ahli mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk ini berdampak positif pada pertumbuhan perekonomian nasional akibat dari fenomena bonus demografi yang diperkirakan terjadi antara tahun 2020-2030 (Maryati, 2015). Di sisi lain, Indonesia juga mengalami transisi demografi yang menyebabkan pergeseran jumlah penduduk dari usia muda ke usia dewasa/lansia, yang tentunya memberikan dampak pada kondisi kesehatan masyarakat.

Keberhasilan upaya pencegahan penyakit dan pengobatan yang dilakukan selama ini menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya angka harapan hidup penduduk Indonesia, yang memicu terjadinya transisi demografi. Namun, transisi demografi yang berdampak pada peningkatan proporsi penduduk lansia ini secara langsung mendorong terjadinya transisi epidemiologi, yaitu pergeseran pola penyakit dari panyakit infeksi ke penyakit tidak menular (Khariri dan Saraswati, 2021). Oleh sebab itu, program pencegahan penyakit juga selayaknya mempertimbangkan transisi epidemiologi ini, sehingga kualitas kesehatan masyarakat bisa di tingkatkan di tengah populasi penduduk Indonesia yang semakin menua (aging population).

Di tengah fenomena transisi demografi dan epidemiologi di Indonesia, kelompok yang juga terdampak adalah pada orang yang hidup dengan HIV. Isu terkait HIV masih menjadi permasalahan mendesak di Indonesia. Selain masalah kepatuhan pengobatan, tingginya angka putus obat, dan stigma serta diskriminasi, masalah lain yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah terkait dengan risiko-risiko penyakit lainnya, khususnya pada orang dengan HIV yang memasuki masa lansia (Lindayani et al., 2020). Beberapa penyakit tersebut seperti penyakit tidak menular dan juga permasalahan kesehatan mental, yang masih perlu mendapatkan perhatian.

 

Apa Saja Risiko Masalah Kesehatan pada Lansia dengan HIV?

Jika dibandingkan dengan orang non-HIV, risiko penyakit tidak menular pada orang yang hidup dengan HIV lebih tinggi, seperti penyakit diabetes, kardiovaskuler, dan kanker (Duffy et al., 2017). Meskipun saat ini sudah tersedia layanan deteksi dini penyakit tidak menular, tetapi pemanfaatan layanan kesehatan untuk mencegah penyakit tidak menular masih belum optimal, khususnya pada orang dengan HIV. Hal ini berkaitan dengan stigma dan diskriminasi yang masih menjadi faktor penghambat orang dengan HIV untuk mengakses layanan kesehatan (Fauk et al., 2019). Oleh sebab itu, upaya untuk mewujudkan layanan kesehatan yang terbebas dari stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV ini masih menjadi prioritas transformasi dan pembangunan kesehatan di Indonesia, guna menciptakan akses layanan kesehatan yang komprehensif untuk semua orang.

Masalah kesehatan lain yang dapat dialami oleh lansia yang hidup dengan HIV adalah berkaitan dengan masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan hingga depresi, baik sebelum maupun pasca pandemi COVID-19 (Lee et al., 2022). Gangguan kesehatan mental ini timbul akibat dari ketakutan akan kematian, stigma dan diskriminasi, masalah ekonomi, hingga rasa kesepian akibat hidup sendiri tanpa keluarga yang mendampingi. Hingga saat ini, belum ada intervensi khusus yang bertujuan untuk mendeteksi dini maupun mengobati masalah kesehatan mental pada lansia dengan HIV. Padahal, deteksi dini adalah upaya penting yang harus dilakukan untuk mencegah masalah kesehatan mental yang lebih buruk.

 

Apa Upaya yang Bisa Dilakukan?

Bertambahnya usia pada orang dengan HIV menjadi faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi, tetapi bisa dimitigasi dan diantisipasi. Salah satu upaya strategis yang bisa dilakukan adalah mendorong lansia dengan HIV untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, serta mendorong upaya deteksi dini terhadap masalah kesehatan (fisik maupun mental). Oleh sebab itu, maka penguatan dari layanan kesehatan sangat penting untuk dilakukan, seperti meningkatkan kapasitas layanan kesehatan untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang menjunjung tinggi hak orang dengan HIV (terbebas dari segala bentuk pemaksaan, stigma, dan diskriminasi), memperkuat peran dan jejaring komunitas orang dengan HIV untuk program kepada lansia, serta mendorong kerjasama dan intergasi antara layanan pemerintah, swasta, dan komunitas dalam menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif dan berkesinambungan, khususnya bagi lansia dengan HIV. Secara perlahan, kolaborasi lintas sektoral ini niscaya dapat terwujud untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.

 

Penutup

Di tengah fenomena transisi demografi dan epidemiologi, masalah kesehatan pada lansia dengan HIV juga menjadi isu prioritas yang perlu mendapatkan perhatian. Oleh sebab itu, pembangunan kesehatan komprehensif yang berfokus pada upaya meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial dari masyarakat sangat penting untuk dilakukan, khususnya pada lansia dengan HIV. Seperti kutipan oleh Walt Disney, bahwa menjadi tua memanglah pasti dan menjadi dewasa adalah pilihan. Namun, menjadi sehat adalah kewajiban bersama, khususnya bagi lansia dengan HIV. Semoga upaya kolektif dari seluruh pihak dapat mendorong terciptanya layanan kesehatan yang komprehensif dan berkesinambungan, untuk kesehatan masyarakat yang lebih baik.

 

REFERENSI:
Duffy, M., Ojikutu, B., Andrian, S., Sohng, E., Minior, T., & Hirschhorn, L. R. (2017). Non‐communicable diseases and HIV care and treatment: models of integrated service delivery. Tropical Medicine & International Health22(8), 926-937.

Fauk, N. K., Merry, M. S., Siri, T. A., Tazir, F. T., Sigilipoe, M. A., Tarigan, K. O., & Mwanri, L. (2019). Facilitators to accessibility of HIV/AIDS-related health services among transgender women living with HIV in Yogyakarta, Indonesia. AIDS research and treatment2019.

Lee, K. W., Ang, C. S., Lim, S. H., Siau, C. S., Ong, L. T. D., Ching, S. M., & Ooi, P. B. (2022). Prevalence of mental health conditions among people living with HIV during the COVID‐19 pandemic: A rapid systematic review and meta‐analysis. HIV medicine23(9), 990-1001.

Lindayani, L., Darmawati, I., Purnama, H., & Permana, B. (2020). Integrating comprehensive geriatric assessment into HIV care systems in Indonesia: A synthesis of recent evidence. Creative Nursing26(1), 9-16.

Khariri, K., & Saraswati, R. D. (2021). Transisi epidemiologi stroke sebagai penyebab kematian pada semua kelompok usia di Indonesia. In Seminar Nasional Riset Kedokteran (Vol. 2, No. 1).

Maryati, S. (2015). Dinamika pengangguran terdidik: tantangan menuju bonus demografi di Indonesia. Economica: Jurnal Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP PGRI Sumatera Barat, 3(2), 124-136.