Sebagai bagian dari komitmen dalam penguatan inovasi kesehatan masyarakat berbasis bukti, Center for Public Health Innovation Universitas Udayana mengelola Unit Pengembangan Telur Nyamuk Aedes aegypti Ber-Wolbachia sebagai salah satu infrastruktur strategis nasional dalam upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD). Unit ini berfungsi sebagai fasilitas produksi, pembelajaran, dan riset terapan yang mendukung implementasi teknologi Wolbachia secara berkelanjutan di Indonesia.
Unit ini dikembangkan melalui kerja sama erat dengan World Mosquito Program (WMP) sebagai mitra teknis internasional, serta berada dalam mandat dan dukungan kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai bagian dari pilot project nasional implementasi Wolbachia untuk penanggulangan dengue. Pengelolaan unit dilakukan di bawah tata kelola Universitas Udayana melalui LPPM dan CPHI, dengan penugasan resmi task force lintas fakultas yang mencerminkan pendekatan One Health dan kolaborasi multidisipliner.
Secara operasional, fasilitas ini merupakan laboratorium rearing berskala besar yang dirancang untuk memenuhi standar produksi telur nyamuk ber-Wolbachia secara konsisten dan terkontrol. Fasilitas ini memiliki luas lahan ±1.411 m² dengan bangunan ±859 m², terdiri atas 11 ruang fungsional yang mencakup area penetasan telur, pemeliharaan larva, pemeliharaan nyamuk dewasa, pemanenan telur, quality assurance/quality control, penyimpanan dingin, hingga ruang pendukung teknis.
Dengan dukungan peralatan canggih dan sistem produksi terstandar, kapasitas produksi mencapai 10–12 juta telur per minggu, yang memungkinkan kontribusi nyata dalam pemenuhan kebutuhan nasional.
Sejak beroperasi, unit ini secara aktif mendukung penyediaan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk lima kota prioritas nasional (Jakarta Barat, Semarang, Bandung, Kupang, dan Bontang), sesuai dengan kebijakan dan perencanaan Kementerian Kesehatan.
Seluruh proses produksi dijalankan dengan pendampingan teknis dari WMP, memastikan kepatuhan terhadap protokol biosekuriti, mutu biologis, serta standar keselamatan lingkungan dan masyarakat.
Lebih dari sekadar fasilitas produksi, unit ini juga berfungsi sebagai platform pengembangan kapasitas dan riset terapan. CPHI memanfaatkan keberadaan unit ini untuk memperkuat pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia, penelitian operasional terkait efektivitas Wolbachia, pemantauan dan evaluasi implementasi di lapangan, serta pengembangan model komunikasi risiko dan community engagement berbasis bukti.
Dengan demikian, unit ini menjadi contoh nyata integrasi riset, inovasi teknologi, kebijakan publik, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem kelembagaan. Melalui pengelolaan Unit Pengembangan Telur Nyamuk Ber-Wolbachia ini, CPHI Universitas Udayana menunjukkan kapasitasnya sebagai pusat unggulan inovasi kesehatan masyarakat yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mampu mengelola infrastruktur strategis nasional, mendukung program prioritas pemerintah, dan berkontribusi langsung pada penguatan sistem kesehatan dalam pengendalian penyakit berbasis lingkungan.